"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.." (QS.An Nahl:125)

Senin, 23 September 2013

Ketika Hati Tak Lagi Kokoh Berdiri

Oleh : Meylina Hidayanti


Dari Abu Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudri r.a, sesungguhnya Nabi saw, bersabda,
“Ada seorang (dari generasi) sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang. Dia lalu bertanya tentang orang yang paling alim di dunia ini. Maka ditunjukkanlah ia kepada seorang rahib (pendeta) dan ia pun mendatanginya. Kepada rahib tersebut, ia menyatakan telah membunuh 99 orang, kemudian ia bertanya, “Apakah masih mungkin bagiku utnuk bertaubat?”, Rahib itu menjawab, “Tidak mungkin!”. Tanpa berfikir panjang, orang ini pun kemudian membunuh rahib tersebut, hingga genaplah ia telah membunuh 100 orang.
Ia pun melanjutkan perjalanannya seraya mencari orang alim yang sekiranya dapat membantunya untuk bertaubat. Setelah mendapatkan informasi, ia pun bergegas mendatangi orang alim tersebut. Kepada orang alim ia menyatakan bahwa telah membunuh 100 orang, dan ia bertanya, “Apakah mungkin bagiku untuk bertaubat?”, orang alim menjawab, “Ya, siapa yang dapat menghalangimu untuk bertaubat. Pergilah ke suatu kampung (menyebutkan suatu tempat), ditempat itu terdapat sekelompok orang yang rajin beribadah kepada Allah swt. Beribadahlah bersama mereka, dan jangan kau kembali ke kampong asalmu”. Maka orang tersebut melanjutkan perjalanannya ke kampung yang dimaksudnya. Namun, ketika ia mencapai separuh perjalanan, ajal menjemputnya.
Berselisihlah antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, “ia dating bertaubat dengna hatinya menghadap kepada Allah”, sedangkan malaikat adzab berkata,”ia belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun”. Kemudian datanglah malaikat lainnya dan berkata, “ukurlah jarak antara kedua kampong tersebut, manakah yang paling dekat dengan mayatnya, maka disitulah kedudukannya”.  Malaikat rahmat dan adzab kemudian mengukur jarak diantara keduanya, dan ternyata mayat tersebut lebih dekat dengan perkampungan yang akan ditujunya, akhirnya mayat tersebutpun diambil oleh malaikat rahmat” [HR. Bukhari, Muslim]. **)
**) kisah diambil dari berbagai sumber

Karena terkadang kita kurang yakin…
Kerasnya usaha manusia dalam mendekatkan diri kepadaNya akan selalu ada peran syaitan untuk menggoyahkan hatinya. Begitu mudah manusia dalam bermaksiat kepadaNya seringkali tidak sebanding dengan usahanya untuk senantiasa bertaubat kembali kepadaNya.
Dari anas radiyallau’anhu dia berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan“ [HR.Tirmidzi]
Sebagaimana kisah panglima tersebut, kerasnya usaha syaitan dalam mematahkan semangat bertaubat sang panglima terlihat jelas melalui jawaban sang rahib yang mengecewakan hatinya, hingga sang panglima masuk dalam perangkap syaitan dengan mengakhiri hidup sang rahib, sehingga sang panglima pun telah membunuh orang ke-100 dengan tangannya sendiri.
Sebagaimana dalam firmanNya, “Iblis berkata : ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku menyesatkan mereka semuanya’” [QS. Al Hijr:39]
Begitulah janji syaitan kepada Allah, bahwa ia akan menyesatkan setiap insan. Mengembuskan keraguan, keputusasaan serta was-was dalam hati adalah sebuah upaya syaitan dalam menjauhkan hubungan seorang hamba kepada Tuhannya. Maka sikap optimisme terhadap Rahmat Allah wajib ditumbuhkan dalam jiwa setiap insan beriman, karena seringkali kita kurang yakin akan janji dan Rahmat Allah.
“…janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari Rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir” [QS. Yusuf:87].
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat" [QS.Al-Baqarah: 222]
Dalam HR. Muslim 4/2197-2198 no.2865 dijelaskan bahwa,
 “Orang yang selalu bertaubat adalah orang yang senantiasa kembali kepada Allah, kembali kepada Allah setelah bermaksiat kepadaNya. Kembali untuk melaksanakan perintahNya setelah ia menyelisihi perintahNya. Setiap dosa itu akan menjauhkan seseorang dari Allah, dan akan memutuskan hubungannya dengan Rabbnya. Disebutkan dalam hadits Qudsi, Allah berfirman (artinya), "Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu semuanya dalam keadaan lurus, namun setan datang kepada mereka, lalu membelokkan mereka dari Agama mereka".
Sesungguhnya orang yang selamat itu adalah orang yang apabila ia tersesat, niscaya ia langsung kembali kepada Allah, dan jika berdosa niscaya bertaubat.
Allah berfirman, "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [QS.An-Nisaa': 110]

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, niscaya mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui" [QS.Ali Imron: 135]
Dalam sebuah kisah, Al Hasan pernah ditanya perihal pertaubatan seorang muslim,”Tidakkah seorang dari kita merasa malu kepada Tuhannya karena dia memohon ampunan dari dosa-dosanya lalu dia melakukan (dosa-dosa itu) lagi kemudian meminta ampunan kemudian mengulanginya?”, dan Al Hasan menjawab,”Yang dinginkan setan adalah seandainya dia memenangkan ini (berputus asa serta bosan bertaubat) dari kalian, maka janganlah kalian merasa bosan dari meminta ampunan (istighfar)”.

Maka jangan pernah berputus asa dari RahmatNya. 
Sungguh, Allah Maha Menepati JanjiNya


Wallahu'alam bishowab

Selasa, 06 November 2012

Kesantunan Intuisi dalam Berbahasa...

Oleh : Meylina Hidayanti

Diriwayat oleh Ibnu Ishaq bahwa begitu keras usaha kaum musyrik untuk mencegah kaum muslim untuk  berhijrah ke Habasyah. Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah sebagai utusan kaum musyrik kala itu membawa berbagai macam hadiah untuk dipersembahkan kepada Raja Najasyi melalui para uskup. Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah mengajukan beberapa alasan agar mereka mengusir kaum muslimin dari sana. Setelah para uskup menyetujui, para uskup menemui Raja Najasyi seraya berkata, “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada beberapa orang bodoh yang telah menyusup ke negeri tuan. Mereka datang sambil membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengetahuinya secara persis, sebagaimana tuan. Kami diutus para pembesar kaum mereka, dari bapak-bapak, paman, dan keluarga mereka untuk menemui tuan, agar tuan berkenan mengembalikan orang-orang ini kepada mereka. Sebab mereka lebih berhak terhadap orang-orang tersebut dan lebih tahu apa yang telah mendorong orang-orang tersebut mencela dan memaki mereka”.

Namun Raja Najasyi merasa perlu untuk meneliti lebih detail dan mendengarkan dari masing-masing pihak sebelum mengambil keputusan. Kemudian Raja Najasyi mengirim utusan untuk menemui orang-orang muslim dan memerintahkan untuk mendatangkan mereka ke hadapannya.

Berikut percakapan antara Raja Najasyi dan Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara orang-orang muslim :
Raja Najasyi        : “Macam apakah agama kalian, yang karena agama itu kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian juga tidak masuk agama kalian serta tidak satupun agama-agama ini?”
Ja’far                  : “Wahai Tuan Raja, dulu kami adalah pemeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala-hala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutuskan tali persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat diantara kita memakan yang lemah. Begitulah gambaran kami dahulu, hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk mengesakan dan menyembahNya serta meninggalkan penyembahan kami dan bapak-bapak kami terhadap batu dan patung.Beliau juga memerintahkan kepada kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanat, menjalin hubungan kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga, menghormati hal-hal yang disucikan dan darah. Beliau melarang kami berbuat mesum, berkata palsu, mengambil harta anak yatim dan menuduh wanita-wanita suci. Beliau memerintahkan kami untuk menyembah Allah semata, tidak menyekutukan sesuatu pun denganNya, memerintahkan kami mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat dan berpuasa. Lalu kami membenarkan, beriman, dan mengikuti beliau atas apapun dari agama Allah. Lalu kami menyembah Allah semata, tidak menyekutukan sesuatu denganNya, kami mengharamkan apapun yang diharamkan atas kami, menghalalkan apapun yang dihalalkan bagi kami. Lalu kaum kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menimbulkan cobaan terhadap agama kami, dengan tujuan untuk mengembalikan kami kepada penyembahan terhadap patung, tanpa diperbolehkan menyembah Allah agar kami menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Setelah mereka menekan, berbuat semena-mena, mempersempit gerak kami dan menghalangi diri kami dari agama kami, maka kami pun pergi ke negeri tuan dan memilih tuan daripada orang lain. Kami gembira mendapat perlindungan tuan dan kami tetap berharap agar kami tidak didzalimi di sisi Tuan, wahai Tuan Raja”
Raja Najasyi        : ”Apakah engkau bisa membacakan sedikit ajaran dari Allah yang dibawa Rasulullah?”
Ja’far                     : “Ya”
Raja Najasyi        : “Kalau begitu bacakanlah kepadaku”,

Lalu Ja’far membacakan “Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad…”  dari surat Maryam. Demi Allah, Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya. Kemudian Raja Najasyi berkata, “Sesungguhnya ini yang dibawa Isa dan benar-benar keluar dari satu miskyat. Pergilah kalian berdua. Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua dan sama sekali tidak”. Kerasnya upaya kaum musyrik untuk mencegah kaum muslimin hijrah ke Habasyah pun tidak membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya Raja Najasyi mengembalikan seluruh hadiah yang dibawa kedua utusan kaum musyrik tersebut kepada mereka.


Kesantunan intuisi Berbahasa sebagai Pengikat Jiwa…

Kecerdasan Ja’far mengurai kalimat dalam menjawab segala rasa keingintahuan Raja Najasyi, mampu menghantarkan islam pada pintu gerbang kejayaan. Dengan kecerdasan intuisi dalam berbahasa Ja’far bin Abu Thalib, sehingga mampu menaklukkan hati Raja Najasyi untuk memilih melindungi kaum muslimin dari jeratan kaum kuffar.

Seiring dengan perubahan social budaya, menjadikan sebagian dari kita cenderung mengalami penurunan kesantunan dalam berbahasa. Seolah kita mulai terlupa, bahwa kesantunan dalam bahasa adalah pengikat jiwa yang mampu menggetarkan hati orang yang mendengarkan ataupun membacanya. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Az Zumar : 23,
“Allah telah menurunkan perkataan yang baik yaitu Al Qur’an yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karena kulit orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…”
“Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad…”  dari surat Maryam.mampu menjadikan Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya, dan semakin bertambah yakin Raja Najasyi untuk melindungi kaum muslimin. Sebagaimana pula Umar bin Khatab sang “Singa Padang Pasir” yang bermaksud membunuh Nabi Muhammad saw kala itu, mampu luruh dan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan keindahan ayat-ayat suci Al Qur’an yang ia dengarkan.


Adakalanya menjadi tolak ukur…

Dikisahkan ketika Khalid bin Walid membantai Bani Jadzimah. Seluruh kaum muslimin mencelanya, namun Rasulullah saw mengguatkan hatinya seraya berkata, “Jangan kau hardik khalid, sesungguhnya ia adalah salah satu pedang Allah yang terhunus kepada kaum musyrikin”.

Sebagaimana pula kisah keinginan taubatan nashuha seorang panglima perang yang telah membunuh 99 orang, karena kurangnya kesantunan dalam berbahasa seseorang ditengah perjalanan taubatnya, mengakibatkan kemarahan sang panglima hingga menggenapkan dengan membunuh 100 orang.

Kesantunan dalam berbahasa sebagai pengikat jiwa mampu menguatkan kembali bagi jiwa-jiwa yang mulai rapuh, dan kurangnya intuisi kesantunan dalam berbahasa, mampu menjadikan jiwa yang telah kuat menjadi rapuh.
Dalam HR. Muslim diriwayatkan, Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang muslim yang paling baik?”. Beliau menjawab,  “Seseorang yang orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”
Dikisahkan pula pada suatu hari seorang lelaki datang ke rumah Umar bin Khattab r.a hendak mengadu tentang keburukan istrinya. Namun setiba dirumahnya, ia mendengar istri Umar bin Khattab r.a berkata keras kepadanya. Akhirnya orang tersebut membatalkan niatnya dan kembali pulang. Ketika lelaki tersebut hendak berbalik pulang, Umar baru saja keluar dari pintu rumahnya. Umar pun memanggil lelaki tersebut, dan berkata kepadanya, “Engkau datang kepadaku tentu hendak menyampaikan berita penting”. Lelaki tersebutpun berterus terang tentang keinginannya mengadukan keburukan istrinya, namun kemudian mengurungkan niatnya ketika ia mendengar istri Umar berkata kasar dan Umar diam saja. Mendengar pengkuan tersebut, Umar tersenyum seraya berkata, “Wahai saudaraku, istriku telah memasakkan makanan untukku, dan mengasuh anak-anakku tiada henti-hentinya, maka jika ia membuat satu-dua kesalahan, tak layak kita mengenangnya,…”. Kesantunan berbahasa Umar bin Khattab dalam kemarahan istrinya yang ia sampaikan pada lelaki tersebut, mampu meredakan niat lelaki tersebut dalam melihat keburukan istrinya.

Sebagaimana pula ketika Allah memerintahkan nabi Musa as dan ditemani oleh nabi Harun as untuk menemui Fir’aun, Allah memerintahkah untuk tetap menjaga kesantunan dalam berbahasa, sebagaimana firmanNya dalam QS. At Thaha :43-44,
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut”
Kesantunan intuisi dalam berbahasa bukan berarti tidak tegas, melainkan dengan sikap dan cara yang santun dalam menyampaikan disertai dengan bahasa yang lembut, tidak menghakimi, santun, jujur dan tegas. 
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". [QS. An Nahl:125]
Rasulullah saw bersabda, "Berikan kemudahan, jangan membuat kesulitan. Sampaikan kabar gembira, jangan membuat orang lari dari islam". [HR. Bukhari].  
Rasulullah saw bersabda, "Katakanlah yang benar itu walaupun pahit". [Hadits hasan diriwayatkan oleh Ahmad Adl bin Hamid dalam tafsirnya, dan Tabrani dalam Mu'jam Al Kabiir]. Serta dalam hadits hasan lainnya yang diriwayatkan oleh Hibban dan Al Baihaqi, "Tidak ada shadaqakah yang paling disukai kecuali perkataan yang haq".
Sesungguhnya Allah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa mengedepankan kesantunan dalam berbahasa. Kesantunan berbahasa sebagaimana yang terdapat dalam firman-firmanNya. Dikarenakan keengganan hamba-hambaNya dalam membaca firmanNya, menjadikan ia kurang mampu dalam mengelola kesantunan dalam berbahasa sebagaimana yang telah Ia firmankan. Adakalanya kecerdasan dan kesantunan dalam berbahasa, mampu menjadi tolak ukur sejauh mana seseorang mengenal kitabnya.

Rabu, 26 September 2012

Pesona Kekuatan dibalik Kelembutan

Oleh : Meylina Hidayanti

Tiga tahun sebelum hijrah, Rasulullah saw melakukan perjalanan ke Thaif untuk mengajak Khabilah Tsaqif, penguasa Thaif, untuk meminta pertolongan dan perlindungan. Perjalanan ini dilakukan tidak lama setelah wafatnya Siti Khadijah pada 619 M dan wafatnya Abu Thalib paman Rasulullah saw pada 620 M

Semenjak meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah yang disegani kaum musyrikin Quraisy, membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika warga Kota Thaif mau menerima Rasulullah saw, kota ini mungkin akan menjadi tempat berlindung kaum Muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Makkah.

Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat dari kaumnya, perjalanan Rasulullah saw ke Thaif dilakukan secara diam-diam dengan berjalan kaki. Di kota ini, Rasulullah saw tinggal selama 10 hari. Namun ternyata penduduk Thaif melakukan penolakan serta memperlakukan Rasulullah saw dengan sangat kasar. Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah saw sehingga kakinya terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membela dan melindunginya. Namun kepalanya pun terluka akibat terkena lemparan batu. Akhirnya Rasulullah saw berlindung, bersembunyi di kebun milik 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi’ah seraya memanjatkan doa;
Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”


Dikisahkan bahwa, kemudian Malaikat penjaga gunung mengucapkan salam kepada Rasulullah saw, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”, Dan Rasulullah saw pun justru mendoakan kaum thaif, “aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun“.


Kelembutan yang terlupakan…
Seiring dengan perkembangan zaman, membawa pada berbagai perubahan yang terjadi pada unsur-unsur social budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi yang menawarkan penuh dengan kenyamanan, menjadikan setiap kita terlena akan segala fasilitas yang ada. Kerasnya “tuntutan zaman”, tak pelak menjadikan setiap pribadi individu jauh dari sosok uswatun hasanah, Rasulullah saw. Pribadi dengan tutur kata yang jauh dari sikap santun, pribadi yang angkuh, penuh kekerasan, berkurangnya rasa simpati maupun empati terhadap saudara muslim lainnya kini telah menjadi hal yang biasa. Hilangnya pribadi penuh dengan kelembutan dalam diri yang mengajarkan kesabaran dan kesantunan bisa jadi ikut andil dalam membawa perubahan social budaya.

Sebagaimana dalam kisah perjalanan Rasulullah saw ke Thaif yang penuh dengan kekerasan dan penyiksaan, Allah swt memerintahkan untuk tetap menunjukkan sikap santun. Menunjukkan sikap untuk tetap dalam kelembutan dan kesabaran melalui pribadi Rasulullah saw, disaat beliau sendiri memiliki kuasa untuk membalas atas sikap penduduk Thaif terhadap dirinya. Dengan sikap yang penuh kelembutan dan kesabaranya terhadap sikap penduduk thaif, sehingga mampu menumbuhkan keyakinan dan pengakuan Addas, seorang Kristen, budak dari 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi’ah.terhadap kerasulan Rasulullh saw.  

Sikap penuh kelembutan dicontohkan pula oleh Rasulullah saw disaat seorang Arab badui yang membuang hajad di dalam masjid. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut’. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284).

Dalam firmanNya, QS. Ali Imran:133-134, Allah mengisyaratkan agar senantiasa berlaku lembut serta menjadi pribadi pemaaf,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”
“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dengan pribadi yang penuh kelembutan pula, Rasulullah saw mampu menjadikan seorang pengemis tua yang senantiasa menghinanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bahkan Rasulullah saw tetap berlaku lembut disaat nyawa terancam. Suatu ketika seorang musuh bernama Da'thur mendapati Rasulullah saw sedang beristirahat, kemudian dengan sigap Da'thur meletakkan pedangnya tepat di leher Rasulullah saw seraya berkata "Siapa yang akan menyelamatkan nyawamu dari tanganku?" dan Rasulullah saw menjawab "Allah". Mendengar jawaban Rasulullah saw, Da'thur pun gemetar hingga pedangnya terjatuh dari tangan. Kemudian dengan sigap Rasulullah saw mengambil pedang Da'thur seraya berkata, "Kali ini siapa yang akan menyelamatkanmu dari tanganku?", Da'thur menjawab,"Tak ada siapa pun". Rasulullah saw pun memaafkan Da'thur. Melihat kelembutan serta kasih sayang Rasulullah saw, Da'thur pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu besar potensi kekuatan dibalik sebuah kelembutan.


Begitupun Musa dan Harun...

Dalam QS. Ath Thaha 42-44, Allah swt pun memerintahkan kepada Nabi Musa as dan Harun as untuk tetap bertutur kata lembut ketika berhadapan dengan Fir’aun yang begitu mendurhakai Allah swt, 
“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut”.

Kembali pada zaman Rasulullah saw yang tak jauh dari berbagai kekerasan, penyiksaan serta penganiayaan, namun hal tersebut tak menjadikannya alasan untuk tak mampu berlaku lemah lembut, sabar dan berlaku santun. Pribadi dengan penuh kelembutan sebagaimana pribadi Rasulullah saw kini mulai memudar, karena keengganan untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah dalam kehidupan. Pribadi dengan penuh kelembutan yang kini mulai tergantikan dengan sikap yang saling mengancam dan penuh kekerasan.

Tak ada teladan sebaik Rasulullah saw. Barangsiapa meneladani Rasulullah saw, niscaya ia akan menjadi teladan.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al Ahzab:21]

.

Selasa, 07 Agustus 2012

Ketika Cinta Harus Memilih

Oleh : Meylina Hidayanti

Pada suatu malam, dalam mimpinya nabi Ibrahim a.s mendapatkan perintah Allah swt untuk menyembelih putranya yang bernama ismail, sebagaimana terdapat dalam QS. Ash Shaffat:102, “Maka tatkala anak itu sampai pada(umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ’Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu..’ ”.

Tentulah hal ini merupakan suatu hal yang berat, karena kehadiran Ismail merupakan penantian panjang nabi Ibrahim a.s dan Siti Hajar, istrinya. Maka berbincanglah nabi Ibrahim a.s, Siti Hajar dan Ismail. Siti Hajar berkata, “Mungkin mimpimu hanya mainan tidur saja, tetapi jikalau mimpi tersebut merupakan wahyu, maka wajiblah dituruti”. Ismail berkata, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” [QS. Ash Shafaat:102].

Ternyata perkara ini telah sampailah pada masyarakat sekitar, sehingga beberapa orang diantaranya mengatakan “Nampaknya Ibrahim sudah gila karena hendak menyembelih anaknya sendiri, jika kita tidak menghentikan perkara ini, maka kita pun akan dibunuhnya kelak”.

Keesokan harinya, nabi Ibrahim a.s tetap melaksanakan perintah Allah swt untuk menyembelih Ismail walau apapun tuduhan masyarakat terhadapnya. Ia pun membawa membawa Ismail, putra kesayanganya untuk disembelih. Setibanya di tempat yang dituju, Ismail berkata “Wahai ayahku, lebih baik kiranya jika engkau menyembelihku dengan keadaan aku tertelungkup, dan hendaklah engkau menutup mata, dan hendaklah engkau mengetahui arah pedang tajam telah tepat di leherku”.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya” [QS. Ash Shafaat:103]. Nabi Ibrahim a.s pun mengucapkan kalimat Allah lalu memacungkan pedangnya tepat di leher Ismail.

Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui keteguhan serta kesabaran keduanya dalam melaksanakan perintahNya, maka Allah pun mengganti Ismail dengan seekor kambing. Sehingga Ibrahim a.s tidaklah sedang menyembelih putra kesayangannya, melainkan menyembelih seekor kambing. Sebagaimana dikisahkan dalam QS. Ash Shafaat:104-107, “Dan kami panggil dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan tebusan yang besar(Allah menggantinya dengan seekor kambing)”.  


Dan ketika hati berfikir…

Dahsyatnya rasa cinta kepada RabbNya, menjadikan Ibrahim a.s dengan teguh memilih melaksanakan perintahNya, yakni menyembelih Ismail, putra kesayangannya sendiri. Sebagaimana pula Ismail, ia pun dengan sepenuh hati melaksanakan perintahNya, meskipun ia menjadi pihak yang ‘terkorban’, yakni untuk disembelih oleh ayahnya sendiri yang ia ketahui bahwa ayahnya begitu menyayanginya.

Kecintaan pada Illahi Rabbi akan menumbuhkan keimanan bahwa apapun ketetapanNya, akan senantiasa mendatangkan kebaikan setelahnya. Disanalah peran segumpal daging (hati) yang terdapat dalam setiap tubuh manusia, ia menjadi control center terhadap apa yang akan dilakukannya. Dan ketika hati seorang hamba Allah mulai berfikir, maka akalnya akan mendorong tubuhnya untuk tunduk dan patuh terhadap perintahNya.

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka jasad tersebut akan menjadi baik. Dan sebaliknya, apabila ia buruk, maka jasad tersebut akan menjadi buruk. Ketahuilah, bahwa segumpal daging tersebut adalah qalbu yaitu hati” [HR. Bukhari].

Sebagaimana Ibrahim a.s yang tidak lagi berfikir akan banyaknya penolakan masyarakat atas apa yang akan ia lakukan terhadap anak kesayangannya, karena hatinya berfokus pada melaksanakan perintah Tuhannya, sami’na wa atho’na.

Sebagaimana pula seuntai do’a yang dilantunkan oleh nabi Yusuf a.s dalam QS. Yusuf:33, 

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”

Dikarenakan persaksian palsu zulaikah atas peristiwa perlakuan ‘tidak terhormat’ terhadap Yusuf, mengakibatkan Yusuf berada dalam penjara. Namun dahsyatnya rasa cinta kepada Illahi Rabbi, menjadikan Yusuf a.s lebih memilih berada dalam jeruji besi agar senantiasa berada dalam ridloNya daripada sebuah kebebasan palsu dikarenakan kekhawatiran akan hadirnya kecenderungan dalam diri terhadap tipu daya manusia.

Sebagaimanapula ketika Abu Ubaidah yang harus berperang melawan ayahandanya pada saat perang badar, yaitu perang antara kaum muslimin dan kaum kafir quraisy.

Dan ketika hati seorang hamba Allah mulai berfikir, ia lebih mengetahui cinta manakah yang harus ia pilih, cinta yang hakiki, yakni cinta Illahi Robbi.


Ketika Cinta Bertasbih…

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, Ta’atilah Allah dan RosulNya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang kafir” [QS. Ali Imran:31-32]

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karunikanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi(karunia)” [QS. Ali Imran:8] 



wallahu a'lam bishawab

Kamis, 19 Juli 2012

Cahaya Abadi bagi Kehidupan yang Abadi

Oleh : Meylina Hidayanti

Terlahir di Bukhara 13 Syawwal 194 H dengan nama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah. Dia dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang ilmiah, tenang, suci dan bersih dari barang-barang haram.  Dia dibesarkan dalam asuhan ibundanya, karena ayahnya telah wafat disaat Abu Abdullah Muhammad masih kecil. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah memiliki keunggulan kejeniusan dan kecerdasan yang telah tampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang bersih, akal yang cerdas, pemikiran yang tajam serta daya hafalan yang sangat kuat, terutama dalam menghafal Hadis. 

Semenjak kecil dia senantiasa semangat dalam menggali ilmu dan mendengarkan hadits dari berbagai negeri, bahka telah beberapa kali mengunjungi Baghdad, hingga penduduk di sana mengakui kelebihannya dan penguasaannya terhadap ilmu riwayah. Diusia 10 tahun, dia telah menghafal banyak Hadits. Pada usia 16 tahun dia mengunjungi berbagai kota suci. Dalam perjalanannya, dia bertemu banyak ulama dan tokoh besar di negeri tersebut untuk mempelajari hadist, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka, dan pada usia tersebut pula, dia telah menghafal kitab Sunan Ibn Mubarak dan Waki.

Pada tahun 210 H, dia mulai menetap di Mekkah dan sesekali pergi ke Madinah. Di kedua Tanah Suci tersebut, terlahirlah sebagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al Jami' As Sahih dan pendahuluannya. 

Selama hidupnya, dia sangat produktif dalam berkarya, di antaranya: Al Jami' as-Sahih (Sahih Bukhari), Al Adab Al Mufrad, At Tarikh As Sagir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh Al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad Al Kabir, Kitab Al 'Ilal. Selain itu, ia juga menulis kitab Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Al Asyribah, Al Qira'ah Khalf Al Imam, Kitab Ad Du'afa, Asami as Sahabah, Kitab Al Kuna dan lain sebagainya yang mungkin tak mampu tercatat dalam tulisan ini. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah merupakan guru bagi para muhadditsin ternama seperti Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Ibnu Majjah, dan Abu Daud. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah, Dialah yang kita kenal dengan Imam Bukhari, yang mendapatkan gelar tertinggi bagi ahli Hadist, yaitu Amirul-Mu'minin fil Hadits karena telah menjadi guru bagi para muhadditsin.  




Berbekal untuk perjalanan panjang…
“Barangsiapa yang masuk kekubur tanpa membawa bekal, tak ubahnya menyeberangi lautan tanpa perahu” (Abu Bakar ash Shiddiq)

Tiada yang sederhana dalam setiap ciptaanNya. Allah telah memberikan surgaNya secara ‘gratis’ bagi setiap hambaNya, karena Allah telah menganugrahkan kepada kita modal yang cukup, tinggal bagaimanakah dari setiap kita mengelolanya. Kualitas seseorang adalah tolak ukur kemuliaan, bukanlah terletak pada mewahnya pakaian, kendaraan, rumah dan bergelimangnya harta. Melainkan nilainya diukur dengan pengetahuan, kedermawanan, akhlak dan amal-amalnya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr:18)

“Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa-apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (lauh mahfudzh)” (QS. Yasiin:12)


Sebagaimana Bukhari yang senantiasa istiqomah dalam menuntut ilmu. Ia mempersiapkan bekal dengan sebaik-baik bekal demi menyongsong perjalanan panjangnya di padang mahsyar kelak.


Allah berfirman dalam QS. Mujadilah: 11, bahwa "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Sebagaimana pula dalam sebuah hadits riwayat At Tarmidzi disampaikan bahwa "Kedudukan seorang alim (orang yang berilmu) lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang 'abid (ahli ibadah). Kelebihan seorang alim dari seorang ahli ibadah, seperti kelebihanku terhadap orang yang terendah diantara kamu". Karena tiada amal tanpa ilmu, tiada ilmu tanpa amal. 



Bersegeralah hidupkan cahayamu…
“Dan apabila seorang manusia meninggal, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dinasehatkan oleh Salamah bin Dinar , bahwa :
“Apa-apa yang engkau inginkan bersamamu di akhirat kelak, maka segerakanlah hari ini juga. Dan apa-apa yang tidak kau inginkan bersamamu diakhirat kelak, tinggalkanlah hari ini juga”


Sebagaimana Imam Bukhari, sang pemilik cahaya yang tak akan pernah padam.  Dialah sang pembawa cahaya dalam kegelapan ilmu disaat mulai kehilangan cahayanya. Banyaknya karya atas ilmu yang ia peroleh, banyaknya para muhaddits yang telah ia bimbing, akan senantiasa menjadi cahaya bagi umat muslim yang hidup di zamannya, setelahnya bahkan hingga kini. Ilmu yang membawa cahaya di sepanjang hayatnya, cahaya bagi kuburnya serta melapangkan akhiratnya. Dia telah memilih cahaya bagi perjalannan panjangnya. Dia telah menyegerakan apa-apa yang diinginkan bersamanya di akhirat kelak.

Sebagaimana Imam Bukhari, kini bersegeralah mempersiapkan cahayamu yang tak akan pernah padam...

"Bukanlah terletak pada seberapa besar atau kecilnya karyamu, melainkan apapun karya yang terlahir karena ilmu yang kau miliki akan mampu menjadi cahaya bagi orang-orang yang terlahir pada masamu, sebelummu, setelahmu, bahkan menjadi cahaya bagi akhiratmu kelak" (Meylina Hidayanti)




Let’s Fastabiqulkhairat..
Menggapai surga dengan apa yang telah Allah beri…

Rabu, 18 Juli 2012

Karena Ujian Atasmu pun Berlaku Padaku

Oleh : Meylina Hidayanti

Kisah berawal seusai perang dengan Bani Mushtaliq, pada bulan Sya’ban 5 H. Peperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut serta ummul mukminin, ‘Aisyah bersama Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat, dikarenakan suatu keperluan, ‘Aisyah keluar dari sekedupnya (tandu yang diberi hijab) dan kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, dia pun pergi lagi mencarinya. Namun kepergianya kali ini tidak disadari oleh siapapun, sehingga rombongan berangkat dengan dugaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. 

Setelah ‘Aisyah mengetahui sekedupnya telah berangkat, dia kemudian duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup tersebut kembali datang untuk menjemputnya. Berselang beberapa waktu, lewatlah seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu’aththal. Ia melihat seseorang sedang tidur sendirian dan ia pun terkejut seraya mengucapkan:“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasul”
 dan ‘Aisyah pun terbangun, kemudian Shafwan pun mempersilahkan ‘Aisyah untuk mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta hingga mereka tiba di Madinah. 

Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Abdullah bin Ubay (salah seorang tokoh munafik) ikut-ikutan membesar- besarkannya. Maka fitnah atas ‘Aisyah r.a itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.


Empati Tak Cukup di Hati…
Manusia bukanlah makhluk individu, melainkan makhluk social, yang mana segala apa yang ada dalam dirinya ataupun yang dilakukannya, berpotensi membawa pengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Hadirnya ujian bagi saudara muslim kita lainnya, pada dasarnya hal tersebut menjadi bagian dari ujian Allah swt atas diri kita, sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al Furqaan : 20

“Dan kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat”

Disinilah Allah menguji tingkat keimanan kita, bagaimanakah bentuk kesabaran dan kepedualian kita terhadap saudara kita, karena keimanan senantiasa bersinergi terhadap kepedulian kita terhadap sesama.

Hadirnya ketetapan Allah berupa ujian fitnah yang menimpa antara ‘Aisyah r.a dengan orang-orang yang menyebarkan desas-desus dan berita bohong sehingga timbullah kegoncangan di kalangan kaum muslimin pada masa tersebut merupakan ujian yang nyata, tak hanya bagi ‘Aisyah r.a melainkan juga teruntuk kaum muslimin pada umumnya. Mudah kiranya bagi sebagian kita menasehatkan kesabaran atas saudara kita yang sedang mendapatkan ujian dari Allah. Namun terkadang justru kita terlupa, bahwa kita pun perlu menasehatkan kesabaran kepada diri kita sendiri, karena kita sendiri pun sedang mendapatkan ujian Allah atas peristiwa yang sedang dialami oleh saudara kita.

Ujian bagi kita atas ujian saudara muslim lainnya yang sering terlewatkan adalah
Bagaimakah langkah nyata wujud kepedulian kita terhadap ujian yang menimpa saudara kita? Sanggupkah kita bersabar untuk menahan lisan kita dari berkata dusta, senantiasa ber-husnudzon terhadap saudara kita serta tidak menggunjingkannya* ? 

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Serta dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu majah “Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh mendzaliminya, membiarkannya (tidak mendapatkan pertolongan kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinanya”



Karena kita bagaikan satu tubuh..

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya" (HR. Bukhari)

"Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka Allah swt akan membelanya dari neraka kelak di hari kiamat" (HR. Tirmidzi)

Sungguh Maha Besar Allah dengan segala ketetapannya. Tiada yang sederhana disetiap kuasanya.
Antara habluminallah dan habluminannas memerlukan sinergisitas yang nyata. Betapa mudah bagi Allah untuk mengetahui siapakah diantara hambaNya yang paling beriman, sebagaimana firmannya dalam QS. Al Ankabut : 29

"Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan Dia mengetahui orang-orang yang munafik" 


Wallahu'alam bishowab..

Catatan :
* Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda "Tahukah kalian apa itu ghibah", para sahabat menjawab "Allah dan RasulNya lebih tahu", kemudian Rasulullah saw bersabda "engkau menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia benci".Kemudia ada yang bertanya, "Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa yang ada pada saudaraku?". Rasulullah saw menjawab, "Jika memang apa yang engkau ceritakan ada pada dirinya, itulah yang namanya ghibah. Namun jika tidak, berarti engkau telah berdusta atas namanya" (HR. Muslim)



Note :

Silahkan bagi yang ingin mengutip isi situs LENTERA CENTRE dengan mencantumkan nama penulis dan alamat situs. Semoga bermanfaat..